Arde
atau Grounding untuk Instalasi Listrik Rumah
Simbol yang umum dipakai untuk
Grounding
Sesuai
dengan janji kami pada artikel sebelumnya untuk mengangkat tema mengenai
pentanahan atau grounding. Tema ini dihadirkan atas masukan seorang
pembaca website yang mempunyai concern mengenai pentanahan ini. Terima kasih
Mbah Osso atas observasinya. Semoga bermanfaat bagi masyarakat luas.
Seperti
yang dijelaskan pada artikel “Mengenal Peralatan Listrik rumah (3)”, ada disana
kami bahas secara singkat mengenai grounding atau pentanahan ini. Dalam
bahasa sehari-hari, istilah yang lebih popular di masyarakat untuk pentanahan
atau grounding adalah “Arde”.
Untuk
tulisan ini, kami memilih istilah “grounding” karena dirasa akan lebih
sesuai dengan penamaan dari komponen-komponen instalasinya.
Dalam
suatu instalasi listrik rumah, grounding wajib dipasang sebagai bagian
keselamatan bagi instalasi listrik rumah itu sendiri. Akan tetapi, sebagian
besar masyarakat masih kurang memahami seberapa penting fungsi grounding
ini.
Kalaupun
mengerti, mungkin saja tidak banyak yang tahu parameter apa yang harus
diperhatikan sebagai justifikasi apakah system grounding yang terpasang
sudah baik atau belum. Untuk itu marilah kita nikmati artikel ini lebih dalam
lagi.
Pengertian Grounding
Dari
situs Wikipedia, dijelaskan bahwa grounding
adalah suatu jalur langsung dari arus listrik menuju bumi atau koneksi fisik
langsung ke bumi. Dipasangnya koneksi grounding pada instalasi listrik
adalah sebagai pencegahan terjadinya kontak antara makhluk hidup dengan
tegangan listrik berbahaya yang terekspos akibat terjadi kegagalan isolasi.
Anda bisa baca juga artikel “Kesetrum
(Tersengat Listrik)” untuk menambah pemahaman.
Dalam
PUIL 2000 (PUIL : Persyaratan Umum Instalasi Listrik, saat ini edisi terakhir
adalah tahun 2000), dipakai istilah pembumian, dan memiliki pengertian sebagai
“penghubungan suatu titik sirkit listrik atau suatu penghantar yang bukan
bagian dari sirkit listrik, dengan bumi menurut cara tertentu”
(PUIL
adalah ketentuan atau persyaratan teknis yang diterapkan di Indonesia, dengan
mengacu kepada standard internasional, dan dibuat sebagai pedoman dalam
pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik)
Pun,
koneksi ke tanah dapat juga membatasi kenaikan dari tegangan listrik statis
ketika menangani produk yang mudah terbakar atau ketika memperbaiki perangkat
elektronik. Contohnya adalah saat pengisian BBM di SPBU dari truk tangki
pengangkut ke tangki penyimpanan SPBU, dimana truk tangki itu harus
disambungkan kabel grounding agar mencegah timbulnya listrik statis yang
dapat menimbulkan percikan api sehingga mengakibatkan kebakaran.
Pengertian
listrik statis secara singkat adalah kumpulan muatan listrik yang terdiri dari
unsur positif dan negatif, dalam keadaan “diam” (secara teknis elektron
bergerak mengelilingi inti atom) dan dapat secara tiba-tiba bergerak atau
terjadi loncatan bila didekati oleh suatu unsur penghantar listrik seperti
logam atau kabel listrik. Loncatan ini kadang-kadang dapat menimbulkan percikan
api bila muatannya besar. Contoh paling mudah adalah petir. (pengertian
lebih detail mengenai listrik statis dan listrik dinamis akan kami bahas pada
artikel-artikel mendatang)
Fungsi Grounding
Sebagai
bagian dari proteksi instalasi listrik rumah, grounding ini mempunyai
beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Untuk tujuan keselamatan, seperti
yang dijelaskan sebelumnya, grounding berfungsi sebagai penghantar arus
listrik langsung ke bumi atau tanah saat terjadi tegangan listrik yang timbul
akibat kegagalan isolasi dari system kelistrikan atau peralatan listrik. Contohnya,
bila suatu saat kita menggunakan setrika listrik dan terjadi tegangan yang
bocor dari elemen pemanas di dalam setrika tersebut, maka tegangan yang bocor
tersebut akan mengalir langsung ke bumi melalui penghantar grounding.
Dan kita sebagai pengguna akan aman dari bahaya kesetrum. Perlu diingat,
peristiwa kesetrum terjadi bila ada arus listrik yang mengalir dalam tubuh
kita.
2. Dalam instalasi penangkal petir,
system grounding berfungsi sebagai penghantar arus listrik yang besar
langsung ke bumi. Dalam prakteknya, pemasangan grounding untuk instalasi
penangkal petir dan instalasi listrik rumah harus dipisahkan.
3. Sebagai proteksi peralatan
elektronik atau instrumentasi sehingga dapat mencegah kerusakan akibat adanya
bocor tegangan.
Bila
ditinjau lebih luas lagi, pengertian dan fungsi grounding akan berbeda
bila diterapkan pada system transmisi tenaga listrik, tujuan pengukuran,
pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa.
1. Untuk rangkaian system transmisi
tenaga listrik yang besar, bumi itu sendiri dapat digunakan sebagai salah satu
penghantar bagi jalur kembali dari rangkaian tersebut, dimana dapat menghemat
biaya bila dibandingkan pemasangan satu penghantar fisik sebagai saluran
kembali. Perlu diketahui, arus listrik yang mengalir ke beban akan mengalir
kembali ke sumber arus listrik tersebut.
2. Untuk tujuan pengukuran, bumi
dapat berperan sebagai tegangan referensi yang relatif cukup konstan untuk
melakukan pengukuran sumber tegangan lain.
3. Pada pesawat terbang, saat
beroperasi tentu tidak memiliki koneksi fisik yang langsung ke bumi. Karena itu
pada pesawat udara, terdapat suatu konduktor besar yang berfungsi
sama seperti grounding, sebagai jalur kembali dari berbagai arus
listrik. Selain itu pesawat udara memiliki static discharge system yang dipasang
pada ujung-ujung sayap, yang gunanya membuang kembali ke udara muatan listrik
yang timbul akibat gesekan dengan angkasa saat terbang, sehingga pesawat aman
dari sambaran petir.
Static Discharge System pada Pesawat
Terbang
System
grounding yang terpasang di instalasi listrik rumah
Kabel
grounding secara umum terkoneksi di kWh meter PLN. Pada saat pemasangan
kWh meter, petugas PLN yang melakukan pemasangan instalasi grounding dan
juga menyambung kabel grounding di dalam kWh meter tersebut. Dalam hal
ini petugas PLN akan memastikan grounding terpasang dengan benar. Karena
kWh meter adalah milik PLN dan disegel.
Tetapi,
sering juga perumahan yang dibangun memasang sendiri instalasi grounding,
dengan menggunakan jasa kontraktor instalasi listrik, sebelum PLN memasang
kWh meter-nya. Dan kemudian saat kWh meter dipasang, petugas PLN akan
menyambung koneksi grounding tersebut di kWh meter. Untuk sistem koneksi
grounding di kWh meter, terminal grounding akan dihubungkan dengan
terminal netral.
Sistem
grounding di kWh meter akan disambungkan menggunakan kabel
grounding dari kabel NYM masuk ke MCB Box (untuk memahami jenis-jenis
kabel bisa baca artikel sebelumnya “Mengenal Peralatan Instalasi Listrik Rumah (2)” ).
Gambar berikut adalah
contoh koneksi untuk grounding yang terpasang di MCB Box (Pengaman
Listrik atau Panel Hubung Bagi) dari instalasi listrik rumah.
Warna merah adalah terminal
pentanahan di MCB Box
Dalam gambar
tersebut, sirkuit dari instalasi listrik rumah digunakan 3 buah MCB dan kabel
masuk dari kWh meter berada di bagian bawah serta kabel keluarnya berada
dibagian atas. Terminal netral berada di bagian atas (kabel berwarna biru) dan
terminal proteksi grounding berada di bagian bawah (kabel hijau-kuning).
1. Sistem grounding yang
terpasang ada dua macam yaitu untuk instalasi listrik rumah dan instalasi
penangkal petir. Dua system grounding ini memang harus dipisahkan
pemasangannya dan berjarak paling tidak 10 m.
2. Koneksi grounding untuk
instalasi listrik rumah terpasang di kWh meter PLN.
Komponen
instalasi grounding adalah sebagai berikut :
1. Grounding rod, yaitu batang grounding
yang ditanam di dalam tanah. Terdiri dari pipa galvanis medium ¾”, kawat
tembaga BC berdiamater 16 mm2, Dan dilengkapi dengan “splitzen” yang
dikencangkan dengan baut. Panjang grounding rod ini biasanya antara 1.5 m s/d 3
m.
2. Pipa PVC, yang digunakan sebagai
selubung (konduit) dari kabel grounding yang ditanam dalam dinding / tembok
atau untuk jalur kabel penangkal petir.
Dari
kWh meter, kawat tembaga BC yang terpasang dalam pipa PVC sebagai konduit
bertemu dengan grounding rod dalam satu bak kontrol. Untuk instalasi
penangkal petir, air terminal yang terpasang harus mampu meng-cover
sampai radius 120 derajat. Dan di posisi air teminal, batang tembaga
disambung dengan kabel BC langsung menuju grounding rod.
Parameter
dalam menentukan kualitas grounding
Parameter
yang paling penting dalam menilai kualitas grounding adalah resistans
atau nilai tahanan dalam satuan Ohm, yang terukur di koneksi grounding
tersebut. Semakin kecil nilai tahanannya, semakin baik grounding tersebut.
Artinya arus gangguan listrik atau petir dapat lebih cepat menuju bumi tanpa
hambatan berarti. Ingatlah, arus listrik secara alami cenderung mencari jalan
dengan hambatan termudah (prinsipnya sama dengan manusia yah..)
Nilai
yang umum dipakai adalah nilai tahanan maksimal 5 Ohm untuk instalasi listrik
rumah dan maksimal 2 ohm untuk instalasi petir. Hal ini juga sesuai dengan yang
dinyatakan dalam PUIL 2000.
Yang
perlu dicatat disini adalah, nilai tahanan yang didapat tidak selalu sama
dengan panjang grounding rod yang terpasang, karena sangat tergantung
pada kondisi tanah dimana instalasi grounding ini dipasang. Bila kondisi
tanahnya mempunyai nilai tahanan rendah, maka cukup dipasang satu atau dua
batang grounding rod dan tahanan yang terukur dapat mencapai dibawah 5
Ohm.
Bila
tahanan terukur masih tinggi, maka panjang grounding rod harus ditambah agar
lebih dalam lagi. Akan tetapi, PUIL 2000 menjelaskan, jika daerah yang
mempunyai jenis tanah yang nilai tahanannya tinggi, tahanan grounding-nya boleh
mencapai maksimal 10 Ohm.
Pengukuran
nilai tahanan ini menggunakan “earth tester”, dimana alat ukur ini sudah
menjadi alat wajib bagi kontraktor yang mengerjakan instalasi grounding.
Anda hanya perlu memastikan bahwa nilai tahanan yang terukur sudah sesuai
dengan persyaratan instalasi grounding. Jadi bukan berapa meter grounding
rod ditanam, tapi nilai resistansi yang harus jadi parameter utama.
Bagaimana koneksi grounding sampai di peralatan listrik
Satu
hal yang tidak boleh kita abaikan adalah koneksi grounding harus
dipastikan tidak terputus sampai ke peralatan listrik yang kita gunakan
sehari-hari. Dari MCB Box atau kWh meter, kabel grounding yang berwarna
hijau-kuning ini bersama dengan kabel phase dan netral akan melewati seluruh
instalasi listrik rumah dan akhirnya terkoneksi di stop kontak.
Gambar berikut adalah salah satu
contoh stop kontak, dimana kotak merah memperilhatkan koneksi dari grounding
tersebut.
Koneksi Grounding pada Stop Kontak
Hal
berikut selanjutnya adalah pada colokan listrik atau steker. Sebaiknya gunakan
colokan listrik yang mempunyai fasilitas koneksi grounding terpasang.
Anda dapat melihat pada gambar berikut contoh colokan listrik yang mempunyai
koneksi grounding (ditandai dengan kotak merah atau lingkaran merah).
Untuk peralatan listrik dengan
kapasitas cukup besar atau sering kita gunakan/sentuh sehari-hari seperti TV,
Rice-cooker, setrika listrik, kabel rol, mesin air, kulkas, dll, sebaiknya
menggunakan
SUMBER;http://www.instalasilistrikrumah.com/arde-atau-grounding-untuk-instalasi-listrik-rumah/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar