Sabtu, 06 Agustus 2016

Materi Seni Budaya Kelas 12




STRUKTUR SENI RUPA
1.    Struktur seni merupakan tata hubungan sejumlah unsure unsur seni yang membentuk suatu kesatuan karya seni yang utuh, contoh struktur seni dalam bidang seni rupa adalah garis, warna, bentuk, bidang dan tekstur.
2.    Tema merupakan ide pokok yang di persoalkan dalam karya seni, ide pokok suatu karya seni dapat di pahami atau atau dikenal melalui melalui subject matter (pokok soal) dan judul karya. Pokok soal dapat berhubungan dengan nilai estetis atau nilai kehidupan, contoh alam, alam kebendaan, suasana, peristiwa dan metafora atau alegori.
3.    Medium adalah sarana yang di gunakan dalam mewujudkan gagasan menjadi suatu karya seni melalui manfaat material atau bahan dan alat serta penguasaan teknis berkarya.
4.    Gaya atau style berkarya seni merupakan cirri ekspresi personal yang khas dari si seniman dalam menyajikan karyanya,.menurut soedarso SP (1987) gaya adalah cirri bentuk luar yang melekat pada wujud karyaseni. Sedangkan aliran berkaitan dengan isi karya seni yang di refleksikan pandangan atau prinsip si seniman dalam menanggapi sesuatu.

A.    Unsur Seni Rupa

Terciptannya sebuah karya seni rupa tidak lepas dari peranan unsur – unsur seni rupa. Unsur – unsur seni rupa antara lain : titik, garis, bidang, warna, tekstur dan gelap terang (pencahayaan). Suatu karya merupakan gabungan elemen – elemen yang merupakan unsur – unsur pokok seni rupa. Dengan norma – norma komposisi dan pemakaian unsur unsur yang tepat seorang seniman akan dapat menghasilkan karya seni yang bermutu
Seni rupa yang sering kalian lihat di kehidupan sehari-hari itu, dibagi dua menurut kegunaannya. Yakni, seni rupa murni dan seni rupa terapan.
Ø  Disebut seni rupa murni karena karya  seni ini mengutamakan fungsi keindahan atau hanya untuk dinikmati nilai atau mutu seninya dengan indera penglihatan. Berikut ini adalah contoh karya seni rupa murni.
Ø  Sedangkan seni rupa terapan merupakan karya seni rupa yang mengutamakan fungsi pakainya selain juga dinikmati mutu seninya. Seni rupa terapan dapat dibedakan menjadi dua, yakni seni kriya/kerajinan tangan seperti ukiran, anyaman, keramik, topeng, serta batik, dan desain seperti ragam hias, produk, interior, eksterior
Sedangkan unsur seni rupa tersebut antara lain :
1.   Titik
Titik merupakan unsur rupa yang paling sederhana. Setiap menyentuhkan pensil untuk pertama kali pada kertas akan menghasilkan titik. Unsur titik akan tampak berarti pada karya seni rupa apabila jumlahnya cukup banyak atau ukurannya diperbesar hingga menjadi bintik.
Lukisan tahun 1891 karya Georges Seurat ini dibuat dengan teknik pointilisme, gambar terbentuk dari kumpulan titik (point). Dari jauh tak terlihat jelas bintiknya, tapi lihat baik-baik maka kamu akan dapat melihat setiap bintik warna yang digunakan Seurat
2.   Garis
Garis adalah kumpulan sejumlah titik yang sejajar, sama besar yang ditarik secara bersambungkan. Garis memiliki dimensi memanjang dan punya arah, bisa pendek, halus, tebal, berombak, melengkung, lurus dan lain – lain. Garis sangat dominan sebagai unsur karya seni dan dapat pula membentuk berbagai karakter dan watak pembuatnnya. Dengan demikian garis matang dan benar dapat pula membentuk kesan tekstur (barik) dan nuansa ruang, serta volume. Garis dapat menggambarkan sifat – sifat tertentu dari sesuatu dan juga dapat sebagai pernyataan emosi.
Garis dapat juga berdiri sebagai garis itu sendiri tanpa mewakili sesuatu dan hanya sebagai ungkapan spontan dari perasaan estetis yang seniman. Garis – garis lurus atau melengkung yang diulang – ulang secara teratur dapat menimbulkan irama tertentu. Oleh karena itu unsur garis berfungsi sebagai dasar ungkapan perasaan perupa.
a.       garis mendatar      : memberi kesan damai, tenang, sunyi, seimbang, dan luas
b.      garis tegak                        : memberi kesan kuat, kaku, kukuh, mulia, tegas dan agung
c.       garis melengkung  : memberi kesan mudah, lentur, tumbuh, dan gemulai
d.      garis lurus miring  : memberi kesan dinamis, labil/goyah, dan menarik perhatian
e.       garis patah                        : memberi kesan maskulin/jantan
f.       garis silang            : memberi kesan kekerasan, beradu, dan tenaga
g.         garis pilin              : memberi kesan mengembangkan, mengaso dan menarik menjemukan
h.      garis putus                        : memberi kesan bergerak, ragu – ragu dan tragis
i.        garis meliuk          : memberi kesan kewanitaan, mewah, bernafsu, dan lemah
j.        garis lembut          : memberi kesan perasa, lemah, ragu dan halus

3.   Bidang
Bidang merupakan unsur rupa yang terjadi karena pertemuan dari beberapa garis. Bidang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bidang geometris dan nongeometris. Bidang geometris adalah bidang yang beraturan dan digunakan dalam ilmu ukur. Bidang nongeometris merupakan bidang yang tidak beraturan. Bidang inilah yang seringkali terdapat pada bentuk-bentuk alami.


 



4.   Bentuk
Bentuk adalah unsur seni rupa yang terbentuk karena ruang atau volume. Macam-macam bentuk dalam seni rupa adalah bentuk kubistis, silindris, bola, limas, prisma, kerucut (geometris), dan nongeometris. Unsur bentuk secara nyata diterapakan pada unsur seni patung, arsitektur, taman, interior, dan kriya.
5.                                                                                                   Warna
Warna merupakan unsur rupa yang terbuat dari pigmen (zat warna). Warna dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok warna primer, sekunder, dan tertier. Warna primer (pertama) maksudnya, warna tersebut bukan terbuat dari campuran warna lain mana pun. Kelompok warna sekunder (kedua) terbentuk dari campuran warna primer dan warna primer lain. Warna tersier (ketiga) terjadi dari campuran warna sekunder dengan warna sekunder lain atau dengan warna primer.
Kelompok warna primer terdiri dari tiga warna, yaitu merah (magenta), kuning (yellow), dan biru (cyan). Kelompok warna sekunder terdiri dari tiga warna, yaitu hijau, ungu, dan jingga. Kelompok warna tersier merupakan warna-warna yang senada dengan warna sekunder namun dengan tingkat pengaruh warna primer yang berbeda-beda.
6.                                                                                                            Tekstur
Tekstur merupakan nilai permukaan suatu benda (halus atau kasar). Secara visual, tekstur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata maksudnya, keadaan suatu benda bila dilihat dan diraba sama nilainya. Sedangkan tekstur semu terjadi bila keadaan suatu benda bila dilihat dan diraba berbeda nilainya. Bagaimana kau membedakan tekstur kaca dengan tekstur pasir, tekstur kulit dengan tekstur kayu, atau tekstur batu dengan tekstur kertas dan kain?
7.   Gelap terang
unsur gelap terang terjadi karena adanya cahaya yang menyentuh objek. Unsur ini penting dalam seni rupa trimatra untuk menimbulkan adanya irama. Sedangkan untuk karya seni dwimatra unsur ini dipakai untuk mendapatkan kesan trimatra (ruang/kedalaman). Unsur gelap terang pada karya seni rupa dwimatra dicapai dengan jalan arsiran dan pewarnaan.
a.      Dengan jalan arsiran
Kesan gelap diperoleh dengan memberikan arsiran yang padat/tebal, sedangkan kesan terang dengan memberikan arsiran yang lebih jarang/tipis atau sama sekali tanpa arsiran
b.     Dengan jalan pewarnaan
Kesan gelap didapatkan dengan memberikan warna – warni gelap (warna tua). Sedangkan kesan terang didapatkan dengan memberikan warna – warni (warna muda)
                   
B.   Prinsip seni rupa
Komposisi adalah gabungan unsur – unsur dalam satu kesatuan yang harmonis. Dalam menyusun sebuah komposisi kita harus tahu tentang prinsip – prinsipnya yaitu sebagai berikut :
1.      Kesatuan
Adalah penyusunan dari unsur – unsur sehingga menjadi satu kesatuan bentuk yang terpadu antara bagian yang satu dengan keseluruhan dan tidak lagi bagian yang berdiri sendiri.
2.      Kesimbangan
Adalah kesan yang didapat dari suatu susunan yang diatur sedemikian rupa sehingga terdapat daya tarik yang sama pada tiap – tiap sisi susunan. Bila didapat dari dua kesan yaitu karena adanya bentuk dan karena adanya warna. Bila dilihat dari susunan. Balance dibagi menjadi dua yaitu :
a.      balance simetris
adalah yang penempatano objeknya pada tiap tiap dari pusatnya selalu sama
b.      balance asimetris
adalah balance yang penempatan objeknya pada tiap – tiap susunan berbeda.
3.      Proporsi
Adalah perbangdingan ukuran antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam satu kesatuan bentuk. Dalam penyusunan harus dibuat sesuai dengan proposi yang sebenarnya agar karya tampak menarik dan kelihatan tidak janggal.
4.      Irama (Rhytm)
Adalah suatu penggulungan secara terus menerus dan teratur daru unsur atau beberapa unsur.
5.      Kontras
Adalah kesan yang didapat karena adanya dua hal yang berlawanan, misalnya ukuran, bentuk dan warna. Pada karya seni rupa kontras sangay perlu karena dengan adanya kontras memberikan kesan paling dominan.
6.      Pusat perhatian
Adalah unsur yang sangat menonjol atau berbeda dengan unsur – unsur yang ada disekitarnya. Untuk menciptakan pusat perhatian dalam karya seni rupa, kita dapat menempatkan unsur yang paling dominan
7.      Keselarasan
Adalah kedekatan unsur - unsur untuk menciptakan keharmonisan dan unsur – unsur yang berbeda baik bentuk maupun warna. Keselarasan dapat kita ciptakan melalui penyusunan bentuk ataupun warna yang saling berdekatan.


Uraian materi I : Konsep gambar bentuk
1.      Konsep Gambar Bentuk
Menggambar merupakan suatu perbuatan seseorang dalam usahannya untuk mengungkapkan buah pikiran sehingga bermakna visual pada suatu bidang dan hasilnya disebut gambar. Dalam kegiatan menggambar dapat dibedakan antara gambar dan lukisan. Lukisan merupakan ungkapan buah pikiran yang disertai emosi yang mendalam, sedangkan gambar hasil buah pikiran saja. jadi dapat dikatakan bahwa lukisan adalah gambar, namun gambar belum dapat dikatakan lukisan. Untuk dapat melukis maka seseorang harus dapat menggambar dengan baik dan memiliki keterampilan yang serupa serta menguasahi wawasan tentang kesenirupaan.
Menggambar bentuk secara umum merupakan kegiatan menggambar yang objek gambarnya berupa bentuk benda. Didalam penggambarannya, objek benda tersebut hendaklah digambar seobjektif mungkin. Dalam artian bentuk benda digambarkan secara tepat sesuai dengan keadaannya baik bentuk maupun warnanya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gambar bentuk sama halnya memotret bentuk benda dengan kemampuan penglihatan dan kemahiran tangan.

                       Ragam Gambar Bentuk
2.  Ragam Gambar Bentuk
Dalam kegiatan menggambar, objek sering kali disebut juga benda atau model. Objek gambar bentuk adalah benda denganberbagai macam bentuk, sehingga menggambar bentuk sering disebut  juga menggambar alam benda (still life). Sedangkan untuk menggambar model, obeknya biasanya berupa manusia.
Bentuk benda yang menjadi objek gambar bermacam – maacam. Bentuk benda dapat dibedakan antara geometris dan non geometris. Bentuk geometris merupakan bentuk beraturan dan bentuk dasar benda. Yaitu kubus, balok, pyramid/limas, silinder, kerucut, dan bola. Sedangkan bentuk nongeometris merupakan bentuk yang tidak beraturan. Bentuk ini terdapat pada berbagai benda alam. Selain itu, benda dapat dibedakan menjadi tiga bentuk. Yakni bentuk kubistis, silindris dan bebas.

2.1. Bentuk kubistis
Yang dimaksud bentuk kubistis adalah bentuk – bentuk yang meyerupai kubus atau benda yang bentuk dasarnya kubus dan balok. Contoh lemari, meja, kardus kulkas dan pesawat TV
2.1. Bentuk silindris
Benda yang memiliki bentuk silindris adalah benda yang bentuk dasarnya menyerupai silinder atau bulat. Contohnya gelas, botol, kendi, tekom ember, gusi, cangkir, kaleng dan piring.

2.1. Bentuk bebas
Benda yang memiliki bentuk bebas adalah benda yang bentuknya tidak beraturan atau yang tidak termasuk kubistis dan silindris. Contoh kain, buiah – buahan, sayur – sayuran dan busana.


Prinsip Menggambar Bentuk
3. Prinsip Menggambar Bentuk
Dalam mengambar bentuk ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Tujuannya agar gambar yang dibuat lebih tepat/ mirip dengan objek yqang digambat. Prinsip – prinsip tersebut adalah perspektif, propossi, komposisi, gelap terang dan baying – bayangan.  
1.1.Perspektif
      Perspektip merupakan prinsip atau kaidah yang penting dalam menggambar bentuk atau melukis corak eralis dan karenanya harus dipatuhi. Menurut prinsip ini objek yang digambar hendaknya sesuai denga  tampakan yang sebenarnya, yaitu objek gambar ayang dekat dengan penggambar akan kelihata lebih besar, lebih tinggi dan lebih jelas sedangkan objek gambar yang jatuh dari si penggambat akan tampak lebih kecil, lebih pendek, dan kurang jelas. Selain itu menggambar dengan memperhatikan hukum perspektif berarti juga menggambatr dengan pandangan satu atau dua titik lenyap.

3.2  Proposi
Yang dimaksud dengan prinsip proposi dalam menggambar bentuk adalah perbandingan bagian per bagian atai bagian dengan keseluruhan. Dengan menerapkan prinsip proporsi ini objek gambar yang satu dengan yang lain harus tampak wajar, misalnya gambar cangkir dengan gambar poci tentu lebih besar pocinya. Akan tampak tidak wajar jika cangkir digambar lebih besar dari poci.
3.3  Komposisi
Komposisi disebutjuga susunan. Komposisi adalah menggambar bentuk diartikan sebagai susunan atau letak objek gambar. Letak objek gambar yang satu dengan objek gambar yang lain hendaknya tidak berjauhan sehingga tidak tampak terpisah. Bila objek gambar disusun menyatu akan tampak indah.
3.4  Gelap terang
Benda akan terlihat oleh mata kita bila terkena cahaya. Bagian benda yang terkena cahaya akan tampak terang. Sedang bagian yang tidak terkena cahaya akan tampak gelap. Diantara bagian terang dan bagian gelap terdapat bagian yang tidak gelap/tidak terang (half-tone). Dalam menggambar bentuk agar kelihatan realis atau seperti tiga dimensi hendaknya memperhatikan nada gelap terang atau sering disebut half tone. Bagian benda yang terang hendaknya diberi warna yang muda atau dibiarkan warna putih kertas, bagian benda setengah terang atau setengah gelap diberi warna sedang atau setengah gelap atau diarsir sedang, dan bagian benda yang tampak gelap diberi warna tua atau diarsir warna hitam pekat.
3.5 Bayang – bayang (shadow)
Benda yang terkena sinar akan menghasilkan bayang – bayang. Bayang – bayang itu jatuh tidah jauh dari benda yang terkena cahaya. Dalam menggambar bentuk, peranan bayang – bayang akan menentukan terciptannya kesan tiga dimensi (realis). Oleh karena itu baying – baying meskipun agak samar – samar harus ada.
Bayang – bayang dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : bayang – bayang awak (bayangan karena sinat, terdapat pada benda tersebut), bayang – bayang langkah (bayangan benda karena sinat, mengenai benda lain), dan baying – baying sendiri (bayangan benda pada permukaan yang licin).

 Teknik Menggambar Bentuk
4.1  Linier
Teknik linier merupakan cara menggambar objek gambar dengan garis sebagai unsur yang paling menentukan, baik garis lurus maupun garis lengkung.
4.2  Blok
Teknik blok merupakan cara menggambar dengan menutup objek gambar menggunakan saru warna, sehingga hanya tampak bentuk globalnya (siluet)
4.3  Arsir
Teknik arsir merupakan cara menggambar dengan garis – garis sejajar atau menyilang untuk menentukan gelap-terang objek gambar sehingga tampak seperti tiga dimensi.
4.4  Dusel
Teknik dusel merupakan cara menggambar yang penenuan gelap-terang objek gambar menggunakan pensil gambar yang digoreskan dalam posisi miring (rebah).
4.5  Pointilis
Teknik pointilis merupakan cara menggambar yang dalam menentukan gelap – terang objek gambar menggunakan pensil atau pena gambar dengan dititik – titikkan.
4.6 Aquarel
Teknik aquarel merupakan cara menggambar dengan menggunakan cat air dengan sapuan warna yang tipis, sehingga hasilnya tampak transparan atau tembus pandang.
4.7  Plakat
Teknik plakat merupakan cara menggambar dengan menggunakan bahan cat poster atau cat air dengan sapuan warna yang tebal sehingga hasilnya tampak pekat dan menutup.
Menggambar Bentuk
5.Menggambar Bentuk
Dalam menggambar bentuk ada dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu : pendekatan dengan model dan pendekatan tanpa model. Perhatikan uraian berikut.
1.1        Pendekatan model
Yang dimaksud dengan modela dalah benda atau objek yang akan digambar, misalnnya kendi, gelas, buah – buahan, kursi, keramik dan sebagainya.
Menggambar dengan pendekatan model maksudnya, dalam kegiatan menggambar harus ada model. Dengan adanya model, penggambar lebih banyak memperoleh kemudahan antara lain :
v  Objek gambar lebih jelas
v  Tidak perlu mencari – cari objek gambar
v  Penggambar dapat mengontrol gambar dan model seserig mungkin
v  Ketepatan sudut gambar lebih terjamin.

1.2        Pendekatan tanpa model
Pendekatan ini bertolak belakang dari pendekatan dengan model. Menggambar bentuk tanpa model banyak kekurangannya, terutama bagi peserta didik ayang masih belajar menggambar. Bagi yang belum mahir, model diperlukan untuk menghasilkan gambar yang baik, sebab tuntutan keberhasilan dalam menggambar bentuk adalah ketepatan gambar dengan objek yang digambar.

1.3        Langkah Menggambar Model
Yang dimaksud dengan langkah – langkah adalah prosedur atau tata urutan kerja. Adapun langkah – langkah dalam menggambar bentuk dengan pendekatan model adalah sebagai berikut:

a.     Pengamatan
Pengamatan adalah kegiatan untuk mengenali objek yang akan digambar. Benda atau objek hendaknya diamati dengan seksama dan berulang – uang. Ada baiknya kegiatan pengamatan dilakukan dengan bingkai (frame).
b.    Sketsa
Pindahkan hasil pengamatan di atas bidang gambar dengan cara mensketsa objek gambar satu per satu secara tipis.
c.     Menentukan gelap terang
Berilah tanda batas yang tipis antara bagian benda yang terang dan gelap dengan memperhatikan arah cahaya.
d.    Menentukan teknik
Penggunaan teknik tergantung pada alat dan bahan yang akan kita gunakan. Bila menggunakan pensil gambar atau pensil berwarna, teknik arsir atau dusel lebih tepat. Sedangkan bila menggunakan bahan cat air, teknik yang tepat adalah aquarel
Gunakan warna – warna yang lebih muda terlebih dahulku kemudian warna tua. Hindarkan pemakaian cat air warna putih atau pensil warna putih. Biarkan warna kertas gambar sebagaimana aslinya. Dan bila menghendaki warna gelap, tidak harus menggunakan warna hitam
e.     Sentuhan akhir
Yang dimaksud sentuhan akhir adalah memberikan penekanan pada karaya gambar bentuk, dengan tusiran yang bersifat memantapkan goresan sehingga gambar tersebut mempunyai greget atau makna.

APRESIASI KARYA SENI RUPA MURNI INDONESIA

RINGKASAN MATERI

  1. PENGERTIAN APRESIASI
            Istilah apresiasi berasal dari bahasa Inggris to appreciate yang artinya menghargai. Secara definitive apresiasi dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam mengenali dan memahami suatu nilai yang terkandung dalam suatu karya seni sehingga dapat menghargai suatu karya seni. Apresiasi tidak sama artinya dengan evaluasi karena evaluasi (penilaian) mempunyai arti memberikan penilaian baik dan buruk atau besar dan kecil.
Beberapa aspek yang dinilai  dalam mengapresiasi karya seni rupa murni adalah:
1.      Ide
Ide adalah gagasan yang menjadi latar belakang di ciptakannya sebuah karya seni
2.      Kreatifitas
Kreatifitas adalah penciptaan karya seni dengan mewujudkan sesuatu yang belum pernah ada dan mempunyai arti dan nilai baru.
3.      Komposisi
Komposisi adalah penataan apresiasirupa dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu sehingga menjadi suatu pola jadi yang matang ( desain).
Komposisi menyangkut hal teknis dan isi. hal teknis berhubungan dengan kemampuan seniman mengolah apresiasiyang meliputi garis, bidang, bentuk, warna,gelap terang dan tekstur. Hal isi berhubungan dengan kemampuan seniman mengolah norma-norma yang terkandung dalam prinsip seni diantaranya kesatuan, keseimbangan, irama dan pusat perhatian.
4.      Gaya
Gaya menunjukkan pencerminan ciri khas pribadi seniman baik teknis maupun isi. termasuk didalamnya adalah pemilihan bahan dan teknik dalam berkarya serta aliran yang tampak dari corak karya seorang seniman.
5.      Teknik dan wujud
Teknik adalah cara seorang seniman mewujudkan gagasan / ide menjadi sesuatu yang menarik. Teknik yang digunakan akan memberi bentuk atau  wujud yang berbeda-beda.

B. RAGAM  SENI RUPA MURNI NUSANTARA

            Karakteristik sebuah karya seni banyak dipengaruhi oleh tempat dimana pencipta karya seni tersebut berada. Masing-masing tempat/daerah /negara mempunyai nilai-nilai budaya yang berbeda. Sehingga yang membedakan karya seni rupa murni nusantara dengan mancanegara adalah nilai-nilai budayanya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni rupa murni nusantara aadalah gagasan manusia yang berisi nilai-nilai budaya nusantara yang di ekspresikan melalui pola kelakuan tertentu dengan media titik, garis,bidang, tekstur, bentuk, warna dan gelap terang yang ditata dengan prinsip tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna.Di Indonesia, daerah Bali dan Yogyakarta merupakan tempat yang mempunyai iklim yang tepat un tuk perkembangan komunitas seni, karena mempunyai latar belakang budaya yang khas. Berbagai ragam karya seni rupa murni nusantara diantaranya adalah:

1.      Seni Lukis
Seni lukis sudah di kenal sejak zaman purba, hal ini di buktikan dengan ditemukannya gambar-gambar di goa Spanyol, Mesopotamia dan juga di Sulawesi. Seni lukis terus berkembang seiring di temukannya pigmen warna yang bermacam-macam. Seni lukis adalah pembabaran gagasan dan ide ke dalam bentuk ekspresi visual dua dimensi.
                                   
2.Seni Patung
Seni patung juga sudah berkembang sejak zaman lampau, terbukti dengan di temukannya patung tanah liat di Sumeria. Di zaman modern patung banyak di gunakan sebagai media ekspresi dan kegiatan spiritual. Seni patung adalah pembabaran ekspresi ide dan  gagasan kedalam karya seni rupa tiga dimensi.          
2.      Seni Grafis
Seni Grafis adalah membuat gambar dua dimensi dengan menggunakan alat cetak (klise).Di dalam kegiatan ini seorang seniman bisa memasukkan nilai estetis dan artistiknya, terutama dalam membuat cetakan/acuan/klise dan dalam pengolahan warna. Seni grafis dapat di buat dengan tehnik cetak tinggi, cetak dalam, cetak saring dan cetak cahaya (photography).

C. PERKEMBANGAN SENI RUPA MURNI NUSANTARA

            Dalam perkembangan karya seni rupa modern, karya seni rupa tidak lagi menjadi simbol-simbol kehidupan tradisi yang kaku namun lebih cenderung menjadi pengungkapan ekspresi seorang seniman secara bebas. Perkembangan seni rupa modern terbagi dalam beberapa babak antara lain :
a.       Masa Raden Saleh (masa perintisan).
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah putra seorang bangsawan. Ketika umurnya masih 10 tahun beliau diserahkan oleh pamannya kepada  belanda untuk di didik menjadi pegawai. Beliau mendapat pelajaran menggambar dari A.A.J. Payen, Cornelius Crusemen dan Andreas Schelfhout. Raden Saleh adalah orang Indonesia pertama yang merintis jalan menuju seni rupa Indonesia modern oleh karena itu meski corak lukisannya naturalis, romantic dan bergaya barat, namun dalam kontek kesejarahan kedudukannya sangat penting. Karya-karya Raden Saleh antara lain:
-          Antara hidup dan mati
-          Berburu banteng di Jawa
-          Perkelahian dengan binatang buas
-          Merapi yang meletus
-          Potret Sultan Hamegkubuwono VIII.
-          Pertempuran Rahwana-Djatayu
-           
b.      Masa Indonesia Jelita (Indie Mooi)
Lukisan-lukisan era ini hanya menyajikan lukisan-lukisan yang menyenangkan secara visual, serba indah, namun miskin kreatifitas, tidak hidup dan tidak menghayati subyek yang dilukisnya. Halini karena terkena getah kesuraman seni lukis Belanda akibat peperangan Napoleon yang tak kunjung padam.Seniman masaini antara lain: Abdullah Surio Subroto, Pirngadi, Basuki Abdullah.

c.       Masa Cita Nasional
Pada masa ini bangsa Indonesia tengah berjuang untuk merdeka dari penjajahan bangsa asing. Pada masa ini terbentuklah PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), yang bertujuan mencari ciri kesenian khas Indonesia. Usaha ini diilhami oleh rasa kebangsaan yang tinggi. Seniman masa ini diantaranya S. Sujoyono dan Agus
Jayasuminta.

d.      Masa Pendudukan Jepang
Kegiatan seni lukis zaman ini  dilakukan dalam kelompok Keimin Bunka Shidoso yang tujuan utamanya adalah propaganda pembentukan kekaisaran Asia timur Raya.Seniman pada masa ini  diantaranya: Agus Jaya, Trubus S, S. Sudjoyono, Affandi.


e.       Masa Sesudah Kemerdekaan
Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia memberi angin baru bagi seniman, sehingga muncullah kelompok-kelompok seniman lukis di tanah air. Diantaranya SIM  (Seniman Indonesia Muda), Pelukis Rakyat.

f.       Masa Pendidikan Formal
Pengalaman pahit perjalanan kehidupan seni di tanah air, menyadarkan seniman akan perlunya pengembangan seni rupa. Akhirnya berdirilah ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dan Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang akhirnya berubah menjadi jurusan Seni Rupa ITB.

g.      Masa Seni Rupa Baru di Indonesia
Pada sekitar tahun 1974 muncullah kelompok baru dalam seni lukis, terdiri dari seniman muda yang mempunyai corak baru dan membebaskan diri dari batasan-batasan seni yang sudah ada. Pelopornya di antaranya adalah Jim Supangkat, Dede Eri Supria dan Nyoman Nuarta.

D. ALIRAN DALAM SENI RUPA

            Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi menyebabkan munculnya alat dan bahan berbagai produk. Keadaan ini akhirnya mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk seni rupa. Perhatian manusia yang cenderung pada hal-hal yang bersifat material, sehingga dunia seolah-olah menyisihkan seni rupa. Hal ini menyebabkan seniman berontak yang dituangkan dalam kreatifitas seni, dan lahirlah aliran-aliran dalam seni rupa. Aliran dalam seni rupa yang muncul ada yang selaras, saling meneruskan atau menentang aliran sebelumnya.

1.      Aliran Klasisis
Aliran ini mengacu pada kebudayaan Yunani klasik dan Romawi klasik. Ciri-cirinya antara lain: dibuat-buat dan berlebihan, indah dan molek, bersifat dekoratif. Tokoh-tokohnya; Watteau dan Vigee Lebrun.

2.      Aliran Neo Klasisis
Merupakan kelanjutan dari aliran Klasisis. Ciri-cirinya: terikat pada norma intelektual akademis, selalu seimbang dan harmonis, warna bersifat bersih dan statis, raut muka berkesan agung, berisi cerita di lingkungan istana, cenderung dilebih-lebihkan. Tokohnya antara lain: Jaques Luis David.

3.      Aliran Romantis
Merupakan penentang aliran Neo klasisis. Ciri-cirinya: berisi cerita yang dahsyat dan emosional, penuh gerak secara dinamis, warna bersifat kontras dan meriah, komposisinya hidup, melebihi kenyataan. Tokohnya antara lain: Theodore Gericould, Eugene Delacroix. Seniman Insdonesia yang beraliran ini adalah Raden Saleh.
  
4.      Aliran Realis
Airan ini sebagai suatu protes terhadap aliran Romantis. Aliran Realis adalah aliran yang penggambarannya sesuai dengan kenyataan hidup. Obyeknya tidak hanya di lingkungan istana, bakan seringkali menampilkan figure rakyat biasa. Tokoh-tokohnya antara lain: Custavo Coubert, Rembrant van Rijn. Seniman Indonesia yang beraliran realis adalah, Dullah, dan Trubus.
                       
5.      Aliran Naturalis
Adalah aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan keadaan alam/alami. Juga bersifat fotografis, karena aliran ini mempunyai konsep bahwa seni lukis yang baik adalah seni lukis yang sama persis secara visual dengan benda-benda yang di lukisnya. Seniman yang beraliran naturalis diantaranya : Gainsborough, Constable, Turner. Seniman Indonesia yang beraliran naturalis adalah Basuki Abdullah dan Mas Pringadi.
                       
6.      Aliran Impresionis
Adalah aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan keadaan saat obyek tersebut dilukis. Obyek yang ditampilkan berupa kilasan cahayayang terpantul oleh benda dalam keadaan cuaca tertentu. Sehingga seniman harus bisa melukis dengan cepat. Tokohnya: Claude Monet, Paul Cezanne. Seniman Indonesia yang beraliran ini adalah S.
Sudjoyono.

7.      Aliran ekspresionis
Aliran ini berkembang di dasari oleh ketidakpuasan dengan karya-karya yang hanya menonjolkan bentuk obyek saja, para seniman mulai menggali hal-hal yang berkaitan dengan ekspresi dan pengalaman batin. Aliran Ekspresionis adalah aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan keadaan jiwa pelukisnya yang spontan pada saat melihat obyek. Tokohnya antara lain: Vincent Van Gogh, Paul Gauguin. Seniman Indonesia yang beraliran ekspresionis adalah Affandi.

8.      Aliran Kubisme
Aliran ini dilator belakangi oleh konsep Paul Cezane, yang menyatakan bahwa bentuk dasar dari segala bentuk adalah silinder, bola dan balok. Kubisme adalah aliran yang penggambarannya berupa bidang segi empat atau bentuk dasarnya kubus. Aliran ini di pelopori oleh Pablo Picasso. Tokoh Indonesia di aliran ini adalah But Muchtar, Muchtar Apin, Srihadi dan Fajar Sidik.
           
9.      Aliran Futuris
Lukisan-lukisan futuris menggambrkan garis-garis yang dinamis penuh gerak. Tema-tema yang dipilih biasanya menggambarkan kesibukan-kesibukan, seperti perang, pesta, arak-arakan, kerusuhan dan sebagainya. Tokohnya antara lain Carlo Carra.
           
10.  Aliran Abstraksionis
Yaitu aliran yang berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi dan asosiasi-asosiasi figurative suatu obyek. Aliran Abstraksionis bisa berbentuk geometris dan nonfigurative. Tokohnya antara lain Piet Mondrian dan Wassily Kandinsky. Seniman Indonesia yang beraliran ini adalah Amri Yahya, Srihadi.
           
11.  Aliran Surealis
Aliran Surealis adalah aliran seni rupa yang penggambarannya melebih-lebihkan kenyataan, bahkan ada yang menyebutnya otomatisme psikis yang murni alam mimpi. Seni Surealis sering tampil tidak logis dan penuh fantasi, seakan-akan melukis alam mimpi. Tokohnya antara lain Salvador Dali.

12.   Dekorativisme :
      Corak ini menyederhanakan dengan jalan mengadakan distorsi. Ciri-ciri bersifat kaku , kegarisan , ritmis , pewarnaan yang merata dan secara umum mempunyai kecenderungan menghias.
      Seni rupa dekoratif dapat digolongkan menjadi dua bagian besar :

a.   Dekoratif Figuratif , berhubungan dengan bentuk-bentuk alamiah.

b.   Dekoratif Abstrak , bebas dari peniruan alam
      Jenis seni rupa ini dapat dibagi dua :
      - Dekoratif Geometris , ( rasional , terikat , pengulangan motif )
      - Dekoratif Intuitif , ( Emosional , bebas dari pola motif )

      Tokoh-tokoh : - Kartono Judokusumo , Widayat ,
                              - Suparto , Ratmoyo , Bagong Kusdiarjo , Batara Lubis , dll.

13.   Seni Rupa Baru ;
      Seni rupa baru bukan aliran , melainkan penamaan sekelompok seniman muda melakukan semacam resolusi konsep penciptaan seni rupa . Mereka mendobrak , sikap alixisme , mitos  dan batasan-batasan seni ruoa mengekang kebebasan berkreasi.
      Untuk memahami garis-garis besar aliran ini marilah kita soroti satu persatu :

a.   Conseptual Art , suatu paham yang mengutamakan gagasan . Salah satu ciri seni
      konsep ialah tidak bertujuan komersial.
      Tokoh-tokoh : Banyong Munni Ardhi
                              Gendut Riyanto ( ITB )
                               Slamet Riyadi ( ASRI )

b.   Pop Art , berusaha melenyapkan perbedaan antara subyek dan obyek , ciri-cirinya :     popular , irit biaya , hasil produksi massa mungkin tak abadi . Tema-tema seni pop
      terutama persoalan bisnis , misalnya iklan , pembungkus dll.
      Tokoh-tokoh : Ronald Manullang , Jim Supakat
                              Pandu Sudewo , Wagiono S dll.

c.   Happening Art
      Kecenderungan seni yang mengutamakan unsur seni rupa , drama , musik , film , tari dalam setiap kombinasi yang tidak biasa.
      Tokoh-tokoh : Bonyong Murni Ardhi , Harry dll.

d.   Optical Art
      Manifestasi keseniannya berusaha mengeksploitir illusi optik atau retinal art. Karyanya menampilkan bentuk atau ujud teratur dan geometris.
      Tokoh-tokoh : Nanik Mirna , Harsono , Anyol Subrato , Sugeng Santoso.

e.   Environment Art :
      Istilah ini digunakan untuk menunjukan karya seni yang ditata dalam ruang tiga dimensional.
      Materi yang digunakan biasanya adalah benda jadi . Misalnya , tiang-tiang , bangunan , meja , pintu , sepeda motor dll.
      Tokoh-tokoh : Danarto , Bonyong Munni Ardhi.

f.    Minimal Art :
      Istilah yang digunakan untuk menyebut karya POP ART yang sederhana , baik dari segi ide , teknik , bentuk , maupun pewarnaan .
     
g.   Realisme Baru , proses berkarya dilakukan dengan meniru foto sebagai dasar lukisan.
      Tokoh-tokoh : Dede ( teknik imitasi )
                              Hardi ( Teknik gabungan )


DESAIN TEKSTIL

Desain Tekstil adalah seni menghias pada kain dengan motif hias tertentu, sehingga kain tampak indah dan dapat difungsikan untuk berbagai kebutuhan.
A.      Membuat karya seni rupa terapan
1.     Pengertian seni rupa tarapan
Benda yang termasuk dalam seni rupa terapan atau seni rupa pakai adalah benda yang berada dalam kehidupan sehari – hari. Benda tersebut memiliki fungsi tertentu dan sekaligus memiliki perwujudan yang indah dan menarik (nilai artistik)
Contohnya : sebuah cangkir yang disajikan di meja tamu.
2.     Jenis – jenis seni rupa terapan
Jenis – jenis seni rupa terapan antara lain seni kriya, seni batik, seni reklame, seni dekorasi, seni industri, esni mode, seni keramik, dan seni ilustrasi.
3.     Seni batik sebagai seni rupa terapan
Salah satu seni terapan yang dikembangkan dari berbagai kesenian Nusantara adalah seni batik. Untuk mengenal karya seni batik, kita pelajari dalam dua tahap, yaitu meranvang pola batik berdasarkan ragam hias seni Nusantara dan membuat batik dengan menggunakan beragam teknik dan bahan.
a.      Motif batik
Seni batik adalah seni yang berasal dari Indonesia dan menjadi kebanggaan bangsa kita. Batik pertama kali dikembangkan di pulau Jawa, terutama di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Akhirnya, batik berkembang di seluruh Nusantara, misalnya daerah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Lombok. Batik merupakan seni tradisional turun temurun.
Pada mulanya membatik adalah pekerjaan perseorangan yang dilakukan dengan tangan. Misalnya, setiap titik ditulis satu persatu dan setiap garis juga digambar sendiri. Membatik memerlukan waktu yang lama. Akan tetapi, sekarang batik telah tumbuh dan berkembang menjasi industri sandang yang sangat besar. Perkembangan batik tidak hanya di Indonesia saja, tetapi telah sampai ke luar negeri. Berdasarkan tekniknya, batik dibagi menadi berbagai jenis, seperti batik tulis, batik cap, batik printing, batik celup, pikoso, dan batik abstrak.
Karya batik dapat berupa :
1)    seni batik terapan (baik untuk kebutuhan praktis, misalnya busana, taplak meja, serbet, sprei, bantal, guling, tirai, dan tas)
2)    seni batik tulis (seni lukis batik)
3)    seni batik hias (lukisan hiasan, wall paper dan sampul kado)

b.      Gambar desain motif kain batik
Bentuk motif gurda utuh, seblemnya dibuat separuh terlebih dahulu, yaitu bagian kiri atau bagian kanan. Kemudian, dismbungkan bentuk kanan dan kiri sama persis, yaitu gambar dijiplak dengan kertas tipis yang dibawahnya diberi kertas karbon.



Motif garuda dibuat separuh bagian kiri, kemudian baru digabungkan dengan bagian kanan.
Bentuk mitif gurda yang disah diisi dengan garis – garis disebut sawut, titik – titik kecil itu disebut cecek. Halusnya cecek menunjukkan halusnya batik.
4.     Membuat rancangan pola (desain) batik
a.     Menggambar desain batik motif gurda
Adapun teknik menggambarnya, antara lain sebagai berikut :
1)   Membuat pola dengan ukuran 10,5 cm dan 4,5 cm sebelah kiri (setengah bentuk), dan ukuran 10,5 cm dan 4,5 cm sebelah kanan
2)   Membuat bentuk garis lengkung stilasi dari bentuk burung garuda (sebelah kiri)
3)   Membuat garis – garais lengkung sebelah kanan dengan bentuk yang sama atau bisa betuk sebelah kiri dijiplak memakai kertas tipis, kemudian kertas tipis tersebut dibalik dan diletakkan sebelah kanan. Di bawahnya diberi karbon, karbon untuk digunakan ulang.
4)   Membuat bentuk garis – garis (sawut) dan titik – titik kecil (cecek) menggunakan tinta merah.

b.    Menggambar desain batik motif parang rusak
Betuk stilir motif parang rusak pada batik Surakarta dan Yogyakarta mempunyai nama – nama tersendiri, misalnya bentuk mlonjo, uceng, mata gareng, alis – alisan gogan, bagongan dan sirap kendela.
Cara membuat desain atau pola motif batik parang rusak.

Keterangan :
Parang artinya karang yang rusak atau cacat. Motif ini menggambarkan bentuk karang yang kehilangan bentuknya (rusak) dan melambangkan sesuatu yang ganjil dan tidak pada tempatanya.
Bahan dan alat yang digunakan dalam membuat desain batik parang rusak adalah kertas gambar, pastel atau krayon, cat air, pensil, penggaris, palet, dan kuas.
Adapun teknik pembuatannya adalah sebagai berikut :
1)   Membuat pola ukuran panjang 25 cm, lebar 15 cm menggunakan kertas gambar atau buku gambar ukurang 20 x 30 cm.
2)   Membuat ukuran jarak atau spasi panjang dan lebar = 5 cm
3)   Kemduian ukuran lima sentimeter pada panjang dan lima sentimeter pada lebar dihubungakan menyilang membentuk bujur sangkar dengan penggaris.
4)   Setiap petak dibuat bentuk lima mlinjo, kemudian diatas dan dibawahnya dibuat bentuk alis – alis gogang.
5)   Membuat mata gareng dengan berselang – seling, kemudian menyudut dibuat gambar silap kendela dan bangongan, bentuk uceng diletakkan di sisi antara sirap kendela dan bangongan.
6)   Pewarnaan memakai cat ait atau spidol pada setiap unsur – unsur batik parang rusak
Membuat batik dengan beragam teknik dan bahan
1.     Membatik dengan pastel
Membatik dengan pastel. Membatik ini merupakan pengenalan teknik batik sederhana. Teknik ini sifatnya membuat bentuk batik yang diperoleh dengan gorensan pastel yang dapat menghalangi warna untuk meresap pada bagian dasar batik.
Bahan dan alat yang digunakan untuk membatik dengan pastel, antara lain pastel, tinta atau cat air, kertas gambar, palet dan kuas.


2.     Membatik dengan menggunakan media malam (lilin) dan warna celup
v Media :
-      malam, warna celup, soga, cating, kompor
v Peralatan
-      cating, wajan, jembangan, alapemukul
v Bahan
-      kain mori, malam, kaji, pewarna, air

Langkah – langkah membatik dengan media malam dan warna celup, antara lain sebagai berikut :
a.     Membuat pola batik pada kain
Kain mori dibentang dengan ukuran menyesuaikan motif yang akan diprgunakan dan dilipat tepinya. Kain, tersebut kemudian digambari pola batik dengan pensil.
b.    Membatik dengan malam (lilin)
Lilin dituangkan ke dalam wajan dan direbus. Lilin yang sudah cair dipergunakan untuk membatik dengan canting sesuai dengan gambar motif baik yang telah dibuat. Setelah selesai dibatik, kain mori tersebut dijemur di bawah terik matahari.
c.   Pewarnaan batik
Zat warna batik dapat digolongkanmenjadi 2 menurut sumber asalnya, yaitu :
Pertama, Zat Pewarna Alam (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam seperti dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan.
Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif.

Zat pewarna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).
Kedua, Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis yang dibuat melalui proses reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena.
d.  Pewarnaan batik
Urutan pewarnaan pada kain batik adalah sebagai berikut :
1)    Pewarnaan Nila atau Naptol
Warna yang digunakan adalah warna nila atau naptol dengan menggunakan wedel. Caranya dengan menyelupkan kain pada warna di jembangan atau wmbe besar yang terbuat dasri tanah liat. Jembangan diusahakan bisa menampung 24 rembat (sekitar 24 liter air). Disiapkan juga sebuah jembangan lain dengan kapasitas isi 21 liter untuk pewarnaan yang lain. Usai pewarnaan nila atau naptol, selanjutnya kain batik dibironi. Proses Mbironi  adalah menutup bagian yang tidak dikehendaki terkena warna dengan malam lilin.
2)    Perwanaan warna soga
Setelah dibironi kain batik diberi warna kedua yaitu soga. Warna soga ini memiliki kualitas yuang berbeda, seperti soga asor (soga bermutu rendah), soga tengah (soga bermutu menengah), dan soga sae (soga bermutu tinggi)
3)    Pewarnaan serenan
Setelah pewarnaan soga diatas, kemudian kain dicelupkan ken dalam seren. Seren untuk soga asor terbuat dari campuran gula dan kapur.
e.      Proses babaran nglorot atau menghilangkan malam atau lilin
Proses ini merupakan proses akhir dari membatik. Istilah dilorot merupakan proses menghilangkan lilin yang masih menempel diatas kain. Proses ini juga disebut sebagai proses babaran yang berarti proses telah selesai.
Proses babaran adalah kain yang telah disoga (warna cokelat), dimasukkan ke dalam kuali untuk direbus sehingga lilin lepas dari kain. Setelah bersih dari lilin, kain batik dibilas dengan air sampai bening, setelah itu baru dijemur.
f.      Berbagai cara dalam mewarna
1)    Pewarnaan dengan nila atau naptol
Untuk perwarnaan ini, disiapkan tempat, bahan warna dan air mendidih . caranya sebagai berikut :
a)     Naptol ditambah TRO (Turkish Red Oil) yang diaduk dan telah menjadi pasta.
b)    Pasta warna dilarutkan dengan air mendidih sehingga menjadi larutan yang keruh
c)     Larutan dicampur kostik soda sehingga menjadi jernih.
d)    Tambahkan air dingin sesuai dengan kebutuhan
e)     Barulah kain dicelup sebagai proses pewarnaan.
2)    Pewarnaan dengan indogosol
a)     Pigmen warna dilarutkan dengan air dingin
b)    Larutan warna ditambah ditambah air panas sesuai dengan ukuran
c)     Serbuk natrium dilarutkan pada warna indogosol tersbut dan ditambahkan air dingin secukupnya
d)    Jika dalam pencelupan kain masih luntur warnanya maka ditambahkan asam sulfat atau asam chlorida yang dilarutkan dengan air dingin.
3)    Pewarnaan dengan procion
a)     Pigmen warna procion dan soda abu dicampurkan malexil secukupnya, lalu diaduk hingga menjadi pasta.
b)    Pasta tersebut diberi air sesuai dengan ukuran dan diaduk sampai larut dan siap digunakan
c)     Kain yang telah diwarnai agar lebih rekat atau tidak luntur, dimasukkan ke dalam larutan garam dapur sesuai ukuran.

4)    Pewarnaan dengan rapid
a)     Pigmen warna dillarutkan TRO sampai menjadi pasta dan ditambahkan air panas sesuai dengan ukuran serta diaduk sampai rata.
b)    Larutan tersebut ditambahkan kostik soda dan diaduk sampai rata.
c)     Pewarnaan rapid pada kain dengan colet dilakukan berulang –ulang agar warna tebal dan rata.
d)    Hasil pewarnaan didiamkan satu hari, bisa dicelupkan pada larutan asam cuka pekat.

3. Membatik menggunkan teknik tutup celup
Seni celup kadang – kadang disebut batik celup karena kain dicelupkan pada warna naptol/wenter atau cat printing. Gambar dibentuk dengan sistem menghalangi masuknya warna pada kain dengan cara kain diikat dengan banyak ikatan. Ikatan dengan karet gelang atau tali plastik/rafia yang berfungsi manutup dari celupan warna.
1.     Bahan
a.     Kain : jenis kain bloco, mori prima, primissima
b.     Cairan warna : wenter, naptol, cat printing (emperon dan sinlohi)
2.     Alat
a.     karet gelang
b.     bejana warna (panci dan ember)
3.     Cara berkarya
a.     Membuat bentuk denga variasi ikatan pada kain
b.     Mencelup kain yang terkait tersebut pada cairan warna
c.      Bila ingin warna lain sebagaimana ikatan dilepas lantas dicelup lagi pada cairan yang berwarna lain
d.     Celupkan berkali – kali sesuai jumlah warna yang dikehendaki.
e.      Apabila proses celupan warna selesai, semua ikatan dilepas.
f.       Hasil karya seni celup dijemur dan disetrika agar halus.

4.     Memanfaatkan batik teknik celup
a.     untuk pembuatan busana dengan motif khas
b.     untuk kain serbet, sarung bantal, guling, sprei tempat tidur dan taplak meja
1.  Sejarah Seni Tekstil Nusantara
a. Tenun
Tenun merupakan salah satu kekayaan budaya tekstil Indonesia yang telah dikenal sejak ratusan tahun silam. Pembuatan kain tenun tradisional adalah salah satu kekayaan ragam budaya Indonesia. Setiap daerah memiliki cara dan gaya tersendiri dalam menenun sehingga menghasilkan motif cara dan gaya tersendiri dalam menenun sehingga menghasilkan motif dan warna yang variatif. Riau daratan contohnya, daerah ini mengembangakan tenun asli melayu, dengan motif khas bunga tanjung, tumpak manggis, wajik berkaki, sikku awan, dan songket serontak yang khas dari Kabupaten Bengkalis, serta motif muara takus khas Kabupaten Khampar.
Motif tenun tradisional Indonesia memiliki cerita dan sejarah di balik untaian benangnya. Ada yang dianggap sebagai jimat sehingga tidak boleh dipakai sembarangan. Yaitu seni tenun khas Pontianak, motif ruwit yang menyerupai perisai memiliki arti dibawa ke langit sebagai jimat atau pelindung perang. Sementara motif pelangka merupakan tempat penampung air para prajurit yang haus dapat minim dari pelangka tersebut setelah pulang perang. Oleh karena memiliki nilai sejarah di dalamnya, kain tenun Pontianak tidak boleh dipakai sembarangan.

b. Batik
Apa itu Batik? 
Sekarang ini kata batik sudah  banyak dikenal di luar negeri.  Baik wanita maupun pria Indonesia dari berbagian suku gemar memakai bahan pakaian yang dihiasi pola batik ataupun kain batiknya sendiri, yang dibuat dan digunting menurut selera masing-masing.  Para turis asing ataupun pejabat-pejabat asing yang tinggal di Indonesia sangat gemar akan batik dan sering membawanya pulang sebagai oleh-oleh.
Sesudah menyebut semuanya ini, tentu timbul pertanyaan apakah sebenarnya batik ini.  Dalam karangan pendek ini dijelaskan secara ringkas tentang arti batik, cara membatik, sejarah perkembangan batik, serta pemakaian hasil batik Indonesia sekarang ini.
Arti kata batik:  para sarjana ahli seni rupa, baik yang berkebangsaan Indonesia maupun yang bangsa asing, belum mencapai kata sepakat tentang apa sebenarnya arti kata batik itu.   Ada yang mengatakan bahwa sebutan batik berasal dari kata "tik" yang terdapat di dalam kata titik.  Titik berarti juga tetes.  Memang di dalam membuat kain batik dilakukan pula penetesan lilin di atas kain putih.  Ada juga yang mencari asal kata batik di dalam sumber-sumber tertulis kuno.  Menurut pendapat ini, kata batik dihubungkan dengan kata tulis atau lukis.  Dengan demikian, asal mula batik dihubungkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya.  Bagainmana cara membuat batik itu?
Cara membatik:   alat untuk membatik ialah canting.  Terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen.  Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagain bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna.  Sebelum pembatik melelehkan lilin di kain putih, banyak langkah yang harus dilalui dulu oleh kain itu.  Perkerjaan persiapan berupapencelupan dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, gunanya untuk memudahkan lilin melekat dan zat warna meresap.
Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu.  Pada taraf yang penghabisan lilin dibuang dengan merebus kain dalam air mendidih.  Sesudah itu kain batik keluar dengan warna-warnanya yang indah serta pola-polanya yang terpilih.

Sejarah Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerjaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. 
Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia I habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.
                           
Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-19 ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.
Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.
Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Tempat pembatikan yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
Ketika berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun-temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.
Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-19. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

Jaman Penyebaran Islam
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan.
Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.
Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. Di samping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.
Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain: pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.
Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.

Batik Solo dan Yogyakarta
Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitar abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.
Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.
Sedangkan Asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di desa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.
Akibat dari peperangan zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.
Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.
Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.
                  
DESAIN REKLAME
Pengertian reklame
Kata reklame berasal dari Bahasa Latin, yaitu dari kata re dan clamo. Re berarti berulang ulang, sedangkan clamo artinya seruan atau panggilan yang berulang-ulang. Seruan tersebut ditujukan untuk khalayak ramai.
Tujuan reklame untuk mengajak atau memperkenalkan barang kepada khalayak ramai agar memakai barang yang ditawarkan.
Bagi masyarakat, reklame itu bermanfaat untuk mengenal produk-produk baru yang diperlukan dalam kehidupannya. reklame juga membantu mensukseskan perdagangan, industri, dan perekonomian.
Media Reklame
a.     Media Suara (Audio)
Pedangan keliling menawarkan mie ayam, roti, es bakso, bakmi, atau sayur-mayur menggunakan alat-alat bunyi, misalnya dengan memukul-mukul bambu, piring, atau mangkuk. Bahkan ada yang menggunakan pengeras suara, tape recorder, atauy melalui siaran radio.
b.    Media Rupa (Visual)
Gambar rekklame yang menawarkan berbagai macam hasil produksi. Di sekitar kita, di muka toko, di tepi jalan raya banyak terpasang reklame cetakan dan gambar. Bentuknya bermacam-macam, ada yang berbentuk spanduk, baliho, pamflet, dan papan rekleme.
c.      Media Suara dan Rupa (Audio Visual)
Reklame ini lebih menarik. Kita dapat mendengar suara dan melihat gambarnya. Jadi, kita dapat mendengar suara dan melihat gambaranya. Jadi, kita dapat menangkap dan memahami maksud tujuan reklame itu dengan mudah. Contohnya, melihat rekleme di televisi dan slide (promosi melalui pemutaran film) di gedung bioskop.
Jenis-jenis Reklame
b.    Reklame Komersial
Rekleme komersial adalah reklame yang digunakan dalam bidang niaga atau bisnis yang bertujuan mendatangkan keuntungan.
c.      Reklame Nonkomersial
Rekleme non komersial adalah rekleme yang semata-mata tidak untuk mendatangkan keuntungan yang berupa material. Reklame ini berguna untuk mempengaruhi perilaku seseorang agar mengikuti seruan atau himbauan tersebut. Misalnya untuk kelestarian alam, sadar hukum, menjaga kesehatan dll
Macam-Macam Produk Reklame
1.     Logo
Logo bisa menjadi bagian dari bentuk rekleme yang lain, baik sebagai insial atau lambang dari badan usaha, organisasi atau instalasi.
2.     Stiker
Berbentuk gambar atau tulisan pada kertas atau plastik yang ukurannya reletif kecil, bagian bawahnya berperekat. Stiker dapat berisi slogan, kalimat bijak atau promosi produk.
3.     Advertensi
Terdapat pada surat kabar atau majalah. Isinya berupa pengumuman atau promosi produk barang dan jasa dalam bentuk gambar dan kalimat.
4.     Pamflet
Jenis Reklame yang bentuk cetakannya reletif sederhana. Berisi penawaran usaha atau ajakan. Penyebarannya dilakukan melalui kendaraan atau ditempel di pinggir jalan.
5.     Poster
Bentuk cetakannya relatif lebih baik dan lebih besar daripada pamflet. Isinya bisa bersifat komersial atau himbauan dengan gambar dan kalimat bijak.
6.     Spanduk
Bahannya dari kain memenjang, dicetek dengan teknik sablon. Berisi pesan, himbauan atau informasi dari yayasan atau organisasi politik. Dibentangkan pada pagar atau antar tiang di sekitar jalan raya.
7.     Brosur
Dicetak di atas kertas yang biasanya dilipat. Berisi tentang keadaan suatu usaha atau lembaga pendidikan agar masyarakat yang berkepentingan dapat mengetahui kegiatan dan faktor pendukungan yang ada.
8.     Katalog
Seperti brosur, tetepi isinya daftar nama, gambar, harga, serta keterangan lainnya tentang barang dan jasa yang ditawarkan. Penebarannya banyak dilakukan di gerbang  pertokoan, melalui sales, atau tempat usaha yang berangkutan.
9.     Baleho
Berukuran besar terbuat dari triplek, seng, kain tebel, atau plastik khusus pada tiang besi yang diletakkan pada perempatan jalan strategis atau di depan gedung pertunjukan. Fungsinya mempromosikan produk yang reletif besar atau banyak seperti perumahan, mobil, rokok, film, dan lain-lain.
10.            Etalase
Berupa ruangan kecil berdinding kaca di depan toko atau tempat barang dijual. Berisi display barang-barang yang dijual di toko tersebut.
11.            Cut out display
Berbentuk tiga dimensi, berupa balon atau model barang yang dipromosikan dalam ukuran besar yang diletakkan di tempat strategis di sekitar toko.
12.            Neon lamp and neon box
Neon lamp terbuat dari susunan lampu pada bidang vertikal, sehingga berbentuk gambar berwarna atau kalimat dari produk yang dipromosikan. Ritme gelap terang lampu yang sering digunakan pada neon lamp ini menggunakan elektronik otematis. Tidak termasuk rekleme elektronik karena tidak ditayangkan melalui pemancar, seperti di televisi atau radio.

Syarat-syarat Pembuatan Reklame
a.     Estetis
Artinya, reklame harus memiliki bentuk huruf indah, mudah dibaca oleh orang lain yang melihatnya. Komposisi rekleme dengan bentuk yang menarik dan artistik.

b.    Etis
Artinya, reklame harus mengandung kalimat singkat, jelas, dan sopan, sehingga mudah dibaca. Usahakan huruf jangan tertutup gambar, tetapi gambar boleh sebagian kecil tertutup huruf.
c.      Persuasif
Artinya, rekleme harus menarik perhatian orang lain atau khalayak ramai. Agar dapat memenuhi syarat tersebut, reklame dibuat dengan bagian-bagian yang lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar